Monitoring dan Evaluasi Anggota Klaster FEDEP Kabupaten Pemalang Monitoring dan Evaluasi Anggota Klaster FEDEP Kabupaten Pemalang
Maksud dan Tujuan : 1. Melakukan monitoring di apangan terhadap pelaksanaan kegiatan UMKM anggota Klaster di FEDEP Kabupaten Pemalang; 2. Untuk mengetahui masalah-masalah /... Monitoring dan Evaluasi Anggota Klaster FEDEP Kabupaten Pemalang

Maksud dan Tujuan :
1. Melakukan monitoring di apangan terhadap pelaksanaan kegiatan UMKM anggota Klaster di FEDEP Kabupaten Pemalang;
2. Untuk mengetahui masalah-masalah / hambatan yang dihadapi pelaku usaha UMKM anggota Klaster FEDEP Kabupaten Pemalang;
3. Memberikan saran dan masukan permasalahan yang terjadi di lapangan agar
UMKM anggota Klaster FEDEP Kabupaten Pemalang dapat lebih berkembang.
4. Menghimpun data atau informasi yang diperlukan untuk melakukan evaluasi.

Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi:
Hari : Rabu
Tanggal : 7 November 2018
Waktu : 09.00 WIB s/d selesai
Lokasi : 1. Produk Olahan Berbahan Dasar Bunga Melati di Desa
Kaliprau Kecamatan Ulujami;
2. Wisata Hutan Mangrove di Desa Mojo Kec. Ulujami.

Bunga Melati dan Olahan Bunga Melati Desa Kaliparau Kecamatan Ulujami

Dalam rangka pengetasan kemiskinan dan pengembangan daya saing daerah, Desa Kaliprau Kecamatan Ulujami berupaya untuk mengembangkan potensi yang ada yaitu pengembangan budidaya bunga melati. Bunga melati di Desa Kaliprau sudah lama di budidayakan oleh petani namun belum di olah menjadi produk yang mempunyai nilai jual yang cukup tinggi.
Pada saat ini bunga melati sudah mulai dikembangkan menjadi produk olahan yang mempunyai nilai tambah/jual yang cukup tinggi seperti sabun mandi, minyak angin, minyak wangi dan lainnya. Pengolahan berbahan dasar bunga melati dilakukan oleh kelompok tani dengan pendampingan dari UNDIP Semarang. Rata-rata hasil budidaya melati setiap bulan mencapai 2 sampai dengan 3 Ton dengan kisaran harga bunga melati antara Rp.5.000,00 hingga Rp.25.000,00 per-Kg, sebelumnya pemanfaatan bunga melati hanya sebagai campuran teh saja.
Melimpahnya produksi bunga melati menjadi permasalahan dalam hal penjualannya dikarenakan pemanfaatan untuk produk belum maksimal hal ini terkendala perijinan beredarnya produk uang belum dimiliki, sehingga produk-produk olahan bunga melati masih dijual di wilayah lokal Kabupaten Pemalang belum berani di pasarkan secara luas. Potensi bunga melati ini menjadi perhatian dari Bappenas, Bappeda Kabupaten Pemalang dan KOMPAK untuk bisa di kembangkan menjadi produk unggulan Desa Kaliprau dengan penghasilan yang tinggi dan dapat menyerap tenaga kerja.
Dalam hal mengantisipasi produksi bunga melati yang melimpah kelompok tani berencana melakukan penyulingan bunga melati menjadi minyak melati akan tetapi mempunyai kendala dari sumber daya manusia serta sarana dan prasarana yang dimiliki sangat terbatas, untuk itu kelompok tani meminta difasilitasi agar dapat berkunjung menimba ilmu ke daerah Kabupaten Sukoharjo, dimana Kabupaten Sukoharjo telah memiliki tempat untuk penyulingan bunga melati menjadi minyak melati sekaligus untuk bisa menyuplai bunga melati ke daerah tersebut.

Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah sumber daya manusia (SDM) yang rendah, kesulitan ijin peredaran produk-produk olahan bunga melati dari BPOM, produksi bunga melati yang melimpah yang belum bisa disalurkan / dijual dan lahan tempat menanam bunga melati terkena rob.

Wisata Hutan Mangrove Desa Mojo Kecamatan Ulujami
Dalam rangka menciptakan daya tarik pariwisata di Kabupaten Pemalang maka keberadaan hutan mangrove di Desa Mojo Kecamatan Ulujami sangat penting untuk dikembangkan agar dapat menjadi destinasi wisata yang menarik. Hal-hal penting yang harus diperhatikan yaitu berkurangnya luas lahan hutan mangrove yang diakibatkan abrasi laut yang semula luas lahan hutan mangrove kurang lebih 14 Ha berkurang menjadi 9 Ha, namun disamping terjadi abrasi juga terdapat sedimen di daerah sebelah timur mlahan mangrove dengan luas sekitar 20 Ha yang perlu dijadikan perhatian.
Permasalahan yang sering muncul adalah keterkaitan dengan Perangkat Daerah yang bertanggungjawab atas hutan mangrove , setelah urusan kelautan menjadi kewenangan Provinsi juga berakibat Perangkat Daerah Kabupaten Pemalang tidak berani mengelola hutan mangrove tersebut. Namun setelah terbitnya Surat Keputusan Bupati Pemalang, hutan mangrove menjadi Kawasan Ekosistem Esensial maka Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pemalang bertanggungjawab terhadap keberadaan hutan mangrove.
Disamping permasalahan diatas terdapat permasalahan lainnya menurut Pokdarwis pengelola wisata hutan mangrove yaitu kurangnya rambu-rambu penunjuk jalan menuju lokasi hutan mangrove dan jalan yang menuju ke lokasi hutan mangrove kondisinya masih rusak. Dilihat dari banyaknya wisatawan yang berkunjung ke hutan mangrove yang kurang lebih 30 orang setiap minggunya terutama di hari sabtu, minggu dan hari-hari libur lainnya maka diperlukan pemandu-pemandu wisata yang profesional serta banyak menciptakan even-even wisata yang berkelanjutan.

SARAN-SARAN :
1. Tindak lanjut agar berkoordinasi dengan dinas teknis yaitu Dipertan Kabupaten Pemalang untuk mengatasi rob atau melakukan penelitian terkait dengan bunga melati agar dapat tumbuh di daerah tepi pantai / di air payau dan berkoordinasi dengan Dinas Koperasi, UMKM dan Perindag terkait dengan ijin dari BPOM.
2. Tindak lanjut agar berkoordinasi dengan dinas teknis baik Kementerian, Provinsi maupun Kabupaten terkait permasalahan wisata mangrove.

IMG_0001

IMG_0002 IMG_0007 IMG_0009 IMG_0012 IMG_0018 IMG_0025 IMG_0038 IMG_0044

 

Administrator

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *